KEBUGARAN
JASMANI UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR
( Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata
Kuliah Dasar-Dasar Pendidikan Jasmani dan Rohani )
Dosen
Pengampu : Dra Farida Hanum.M.Kes
Di Susun Oleh :
Fadri Supriyanto (17110241020)
Prodi Kebijakan Pendidikan
Jurusan Filsafat dan Sosiologi
Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
2017
KATA PENGANTAR
Puji
dan Syukur saya penjatkan kehadirat Allah SWT, atas kasih dan rahmat-NYA
sehingga penyusunan makalah ini dengan judul “ KEBUGARAN JASMANI UNTUK SISWA
SEKOLAH DASAR” dapat selesai. Dan tidak lupa pada kesempatan ini disampaikan
ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada semua pihak. Dan tidak lupa saya
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, baik penyusunan
maupun penyajiannya. Disebabkan oleh keterbatasan pengalaman dan pengetahuan
penulis, oleh karena itu segala bentuk masukan yang membangun sangat
diperlukan. Untuk diperbaiki lebih lanjut. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Yogyakarta,
Fadri Supriyanto
DAFTAR ISI
HALAMAN
SAMPUL
|
:
|
……………………………………………………………......
|
I
|
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
|
:
|
……………………………………………………………......
……………………………………………………………......
|
II
III
|
BAB
I PENDAHULUAN
|
……………………………………………………………......
|
1
|
|
1.1 Latar Belakang
|
:
|
……………………………………………………………......
|
1
|
1.2 Rumusan Masalah
|
:
|
……………………………………………………………......
|
2
|
1.3 Tujuan
|
:
|
……………………………………………………………......
|
2
|
BAB
II PEMBAHASAN
|
:
|
……………………………………………………………......
|
3
|
1.1
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
1.2
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
1.3
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
1.4
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
1.5
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
1.6
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
1.7.
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
1.8
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
BAB
III KESIMPULAN DAN SARAN
|
|||
1.1 Kesimpulan
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
1.2 SARAN
|
:
|
……………………………………………………………......
|
|
DAFTAR
PUSTAKA
|
:
|
……………………………………………………………......
|
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kebugaran jasmani adalah kemampuan
seseorang dalam melakukan aktivitas keseharian tanpa mengalami kelelahan yang
berarti, dan masih mempunyai cadangan sisa tenaga untuk melakukan aktivitas
yang lain. Kebugaran jasmani bagi anak Sekolah Dasar sangat penting
untuk menyediakan tugas-tugas belajar di sekolah dengan baik.
Di samping itu, kebugaran jasmani
bagi anak untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik yang baik. Pada
proses pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di Sekolah Dasar (SD)
memiliki tujuan untuk mewadahi keterampilan gerak anak, karena pada usia
Sekolah Dasar anak sangat aktif bergerak. Gerakan yang muncul adalah tuntutan
dari kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak yang diransang oleh hormon
pertumbuhan sehingga anak Sekolah Dasar aktivitas geraknya seperti tidak ada
habisnya. Permasalahan yang masih sering terjadi adalah masih banyaknya
ditingkat anak sekolah dasar yang kreativitasnya terbatas pada materi yang
telah ditentukan dan ditambah lagi kekurang
B.
Rumusan Masalah
C. Tujuan
Tujuan utama kebugaran jasmani yaitu untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat
kebugaran jasmani pada anak. Unsur – unsur kebugaran jasmani yang berhubungan dengan
konsep kebugaran jasmani dalam kehidupan sehari – hari terdiri dari kekuatan, kelenturan dan keseimbangan.
Bentuk ini akan diuraikan bentuk – bentuk latihan kelenturan, daya tahan
paru jantung, kekuatan, daya tahan otot, kecepatan, komposisi Tubuh dan keseimbangan yang dapat dilakukan dengan cara yang mudah
dan murah, namun menghasilkan kebugaran yang maksimal apabila dilakukan dengan
benar, teratur, dan dalam jangka waktu yang lama.
D.
Manfaat
Peserta
didik di Sekolah Dasar (SD) dalam masa pertumbuhan sangat memerlukan aktivitas
fisik dalam bentuk latihan kebugaran (olahraga) yang teratur, baik dan benar
agar berpengaruh terhadap, beberapa hal, antara lain sebagai berikut:
a.
meningkatkan
efisiensi kerja jantung, meningkatkan daya kerja paru-paru secara efisien.
b.
meningkatkan
tumbuh dan kurangnya pembuluh darah, meningkatkan volume darah sehingga lebih.
c.
meningkatkan sarana penyaluran oksigen lebih
banyak keseluruh jaringan tubuh
d.
meningkatkan
ketegangan otot dan pembuluh darah serta mengubah jaringan yang lemah dan lunak
menjadi jaringan yang kuat dan kokoh.
e.
mengubah
kondisi tubuh yang terlampau gemuk menjadi tegap dan berisi.
f.
meningkatkan
konsumsi oksigen secara maksimal.
g.
mengubah
seluruh pandangan hidup kita
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Deskripsi
Teori
1.
Hakikat
Kesegaran Jasmani
Menurut
Arma Abdoellah dan Agus Manadji (1994: 146)
kesegaran jasmani adalah kemampuan untuk melakukan tugas
sehari-hari dengan semangat tanpa rasa
lelah yang berlebihan dan dengan
penuh energi melakukan dan menikmati
kegiatan pada waktu luang yang dapat
menghadapi keadaan darurat bila
datang. (Menurut Muhajir 2007:57).
Kesegaran jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan untuk melakukan penyesuaian (adaptasi) terhadap pembebasan fisik yang diberikan kepadanya (dari kerja yang dilakukan
sehari-hari) tanpa menimbulkan kelelahan
yang berlebihan.
Menurut
Suharjana (2006: 11), kesegaran jasmani adalah kualitas seseorang untuk melakukan aktivitas sesuai
pekerjaannya secara optimal tanpa
menimbulkan problem kesehatan dan
kelelahan secara berlebihan. Menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 2-3) pengertian
kesegaran jasmani adalah “kemampuan
seseorang untuk dapat melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa timbul
kelelahan yang berlebihan sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya”.
Menurut, Djoko Pekik Irianto (2004:2-3). Kesegaran digolongkan menjadi 3
kelompok yakni:
a. Kesegaran Statis: Keadaan seseorang
yang bebas dari penyakit dan cacat atau
disebut sehat.
b. Kesegaran Dinamis: kemampuan
seseorang bekerja secara efisien yang tidak memerlukan keterampilan khusus,
misalnya berjalan, berlari, melompat, mengangkat.
c. Kesegaran Motoris: kemampuan
seseorang bekerja secara efisien menutut keterampilan khusus, misalnya seorang
pelari dituntut memiliki teknik berlari dengan benar untuk memenangkan
perlombaan.
2. Komponen-komponen
Kesegaran Jasmani
a. Kesegaran
Jasmani Yang berhubungan Dengan Kesehatan.
Menurut
Djoko Pekik I (2000 : 40) kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan
memilki empat komponen dasar, meliputi :
i.
Daya
Tahan Paru Jantung
ii.
Kekuatan
Daya Tahan Otot
iii.
Kelentukan
iv.
Komposisi
Tubuh
Sedangkan
menurut Corbin dan Lindsey (1997 : 5-8) komponen kesegaran jasmani yang berhubungan
dengan kesehatan meliputi :
i.
Komposis
Tubuh
ii.
Kesegaran
Kardiovaskuler
iii.
Kelentukan
iv.
Ketahanan
otot
v.
Kekuatan
a. Kesegaran Jasmani Yang Berhubungan
Dengan Keterampilan.
Menurut
Corbin dan Lindsey (1997 : 5-8) komponen kesegaran jasmani yang berhubungan
dengan ketrampilan meliputi:
i.
Ketangkasan
ii.
Keseimbangan
iii.
Koordinasi
iv.
Tenaga
v.
Waktu
Reaksi
vi.
Kecepatan
Sedangan
menurut Nurhasan (2001 : 133) kesegaran jasmani yang berhubungan dengan ketrampilan meliputi :
i.
Kecepatan
ii.
Power
iii.
Kesimbangan
iv.
Kelincahan
v.
Koorinasi
vi.
Kecepatan
Reaksi
Arti dari masing- masing komponen kesegaran jasmani
i.
Daya
Tahan Otot Dan Paru-paru
Menurut Djoko Pekik Irianto (200 :
23) daya tahan kardiorespirasi merupakan
kemampuan fungsional paru jantung mensuplai oksigen untuk kerja otot dalan waktu lama. Corbin dan
Lindsey (1997 : 5) menyatakan bahwa daya tahan kardiorespirasi merupakan
kemampuan jantung, pembuluh darah, darah dan sistem respirasi untuk
mensuplai bahan bakar khususnya oksigen
ke dalam otot, menggunakan pada saat latihan. Len Kravitz (1997 : 5) “mengemukakan daya tahan jantung,
paru-paru pembuluh dara dan grup otot-otot yang besar untuk melakukan
latihan-latihan yang keras dalam jangka waktu yang lama”. Wahjoedi (2000 : 9)
mengatakan daya tahan jantung dan paru-paru adalah kapasitas sistem jantung dan
pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal saat melakukan aktifitas sehari 0
hari dalam waktu yang cukup lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti.
ii.
Kekuatan
Otot
Menurut pendapat Djoko Pekik I (2000
: 29) kekuatan otot adalah kemampuan sekelompok otot melawan beban dalam satu usaha. Sedangkan
pendapat Rusli Lutan , J. Hartoto dan Tomo liyus (2001 : 62) kekuatan otot dapat
didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengerahkan
daya tahan semaksimal mungkin untuk mengatasi sebuah tahanan. Pendapat Mochamad
Sajoto (1988 : 45) kekuatan otot adalah kemampuan otot atau kelompok otot untuk
melakukan kerja, dengan menahan bebabn yang diangkatnya. Sedangkan menurut
Iskandar Z.A, dkk (1999 : 5-6) secara
fisiologis, kekeuatan otot adalah kemampuan otot atau sekelompok otot
untuk melakukan satu kali kontraksi secara maksimal melawan tahanan atau beban.
Secara mekanis kekuatan otot didefinisikan sebagai gaya (Force) yang dapat
dihasilkan oleh otot atau sekelompok
otot dalam satu kontraksi maksimal, Menurut Sadoso S (1992 : 20)
kekuatan otot adalah kemampuan
otot maksimal untuk mengangkat suatu
bebab. Len Kravitz (1997 : 6) mengatan kekuatan otot adalah kemampuan otot
untuk menggunakan tenaga maksimal atau
mendekati maksimal untuk mengangkat beban.
iii.
Daya
Tahan Otot
Daya tahan otot adalah kemampuan
sekelompok otot untuk mengerahakan daya
maksimum selama periode waktu yang relatif lama terhadap sebuah tahanan yang
lebih ringan dari pada beban yang bisa
digerakkan oleh seseorang Rusli Lutan,J. Hartoto dan Tomoliyus (2001 : 62). Sedangkan menurut
Djoko Pekik I (2000 : 29) daya tahan otot adalah kemampuan sekelompok otot
melakukan serangkaian kerja dalam waktu lama. Menurut Sadoso S (1988 : 21) ketahanan otot adalah kemampuan
otot untuk melakukan suatu pekerjaan yang berulang-ulang atau berkontraki pada
waktu yang lama. Iskandar Z.A, dkk (1999: 6) daya tahan otot adalah kapasitas otot
untuk melakukan kontraksi secara terus-menerus pada tingkat intensitas
submaksimal.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan daya tahan
otot merupakan kemampuan otot melakukan kerja yang berturut-turut dalam jangka
waktu yang cukup lama.
iv.
Kelentukan
Menurut Djoko Pekik I (200 : 29)
pengertian kelentukan adalah kemampuan persendian untuk bergerak secara
leluasa. Sedangkan menurut Rusli Lutan,
J. Hartoto dan Tomoliyus (2001 :
80) fleksibilitas dapat didefinisikan
sebagai kemampuan dari sebuah sendi dan
otot, serta tali sendi di sekitarnya untuk bergerak dengan leluasa dan nyaman dalam ruang gerak maksimal yang
diharapkan. Menurut Mochamad Sajoto (1988 : 44)
kelentukan adalah keefektifan sesorang dalam menyesuaikan diri untuk segala
hal dengan penguluran seluas-luasnya,
terutama otot dan ligament di sekitar persendian. Pendapat Sadoso S (1988 : 21)
Kelenturan adalah kapasitas fungsional persendian-persendian kita untuk
bergerak pada daerah gerak yang maksimal, bergantung pada panjang otot, tendon
dan ligament tubuh.
Berdasarkan pendapat diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa kelentukan gerak
dari persendian tubuh melakukan gerak yang luas jangkauannya tergantung pada
peraturan tendo, ligament, jaringan penghubung dan otot.
v.
Komposisi
Tubuh
Menurut Len Kravitz (1997 : 7)
“komposisi tubuh adalah persentase lemak
tubuhm dari berat badan tanpa lemak (oto, tulang rawan dan organ vital)”.
Karena lemak merupakan bagian dari pada tubuh yang dapat memberikan andil pada
keindahan bentuk tubuh bila jumlahnya
tepat dan sesuai dengan jumlah dan letaknya, oleh karena itu persentase lemak
haruslah kita ketahui dengan cara melakukan pengukuran dengan menggunakan alat
sehinfold caliper di bagian-bagian tertentu seperti triceps, beceps, sub
scapila dan suprailiaka. Presentase lemak tubuh biasanya tergantung pada jenis
kelamin, usia, keturunan dan aktifitas seseorang. Karena pada umumnya semakin
usia menanjak akan semakin meningkat pula persentase lemak tersebut khususnya
bagi kaum wanita. Jadi secara umum dapat ditarik konklusi bahwa kecil
persentase lemak, maka akan semakin baik kinerja seseorang. Ada beberapa fungsi
lemak anatar lain yaitu:
a.
Perlindungan
organ-organ bagian dalam tubuh
b.
Membantu
memberikan garis bentuk tubuh
c.
Sebagai
cadangan makanan
Sesesorang
ataupun siswa yang mempunyai badan besar atau terlihat berlebihan lemak pada
tubuhnya sangatlah mempengaruhi ruang gerak yang ada pada dirinya, untuk itu
hendaklah kita selau menjaga komposisi tubuh kita agar selalu seimbang yaitu
melalui olahraga secara teratur dan terprogram.
vi.
Kecepatan
Menurut Wahjoedi (2000 : 61)
mengemukakan bahwa kecepatan adalah “kemampuan tubuh untuk melakukan gerakan
dalam waktu yang sesingkat-singkatnya”. Kecepatan tidak hanya dibutuhkan untuk
berlari tetapi pada dasarnya kecepatan dapat digunakan dalam segala bentuk
aktifitas seperti dalam menyelesaikan tugas, baik pekerjaan harian maupun
tugas-tugas belajar sebagai siswa.
vii.
Kelincahan.
Menurut Wahjoedi (2000 : 61)
kelincahan merupakan kemampuan tubuh untuk mengubah arah secara tepat tanpa
adanya gangguan keseimbangan atau kehilangan keseimbangan. Dengan kordinasi dan
kecepatan yang tinggi maka dengan sendirinya seseorang akan memiliki kesegaran
yang baik karena dalam komponen kelincahan memadukan semua unsur gerakan dan
daya tahan tubuh.
viii.
Keseimbangan.
Menurut Wahjoedi (2000 : 61) adalah
kemampuan tubuh untuk mempertahankan posisi atau sikap tubuh secara tepat pada
saat melakukan gerakan. Karena pada dasrnya keseimbangan sangat diperlukan untu
selalu dapat mempertahankan postur dan kondisi
tubuh baik pada saat berjalan, duduk atau melakukan aktifitas fisik
lainnya dalam menyelesaikan tugas-tugas keseharian.
ix.
Kecepatan
Reaksi
x.
Menurut
Wahjoedi (2000 : 61) kecepatan reaksi adalah waktu yang diperlukan untuk
memberikan respon kinetik setelah menerima suatu stimulaus atau rangsangan.
Karena melalui rangsangan reaksi tersebut mendapat sumber dari : pendengaran
dan rabaan. Berdasarkan penjelasaan di
atas jelas bahwa kecepatan reaksi sangatlah penting bagi setiap individu maupun
bagi siswayang melakukan aktifitas kerja maupun belajar setap harinya.
xi.
Koordinasi.
Menurut Wahjoedi (2000 : 61)
koordinasi adalah kemampuan tubuh untuk
melakukan gerakan secara tepat, cermat dan efisien.
3.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor yakni, faktor internal dan faktor eksternal. Yang
dimaksud faktor internal
adalah sesuatu yang sudah terdapat dalam tubuh seseorang yang bersifat menetap
misalnya genetik, umur, jenis kelamin. Sedangkan faktor eksternal diantaranya
aktivitas fisik, lingkungan dan kebiasaan merokok (Djmanshiro, 2008). Menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 7-9), pola hidup sehat
meliputi: makan, istirahat, dan olahraga. Ketiganya dijelaskan seperti berikut :
a.
Makan Untuk mempertahankan hidup secara layak
manusia memerlukan makanan yang cukup, baik kuantitas atau kualitas, yakni
memenuhi syarat makanan sehat berimbang, cukup energi dan nutrisi meliputi,
karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Kebutuhan energi untuk
bekerja sehari-hari diperoleh dari makanan sumber energi dengan proporsi
karbohidrat 60% lemak 25% dan protein 15%. Untuk memperoleh kebugaran yang
prima selain memperhatikan makan sehat berimbang juga di tuntut untuk
meningkatkan kebiasaan yang tidak sehat seperti merokok, minum alkohol dan
makan berlebihan dan tidak teratur.
b.
Istirahat Tubuh manusia tersusun atas sistem organ,
organ, jaringan serta sel yang mempunyai kemampuan kerja terbatas. Seseorang
tidak akan mampu bekerja terus menerus sepanjang hari tanpa berhenti. Kelelahan
adalah salah satu indikator keterbatasan fungsi organ manusia. Untuk itu
istirahat sangat diperlukan agar tubuh memiliki kesempatan melakukan pemulihan
(recovery) sehingga dapat melakukan kerja atau aktivitas sehari-hari dengan
nyaman.
c.
Olahraga Banyak cara dilakukan oleh masyarakat untuk
mendapatkan kesegaran misalnya dengan pijat (masase), mandi uap (sauna),
berendam di air hangat atau dengan berlatik olahraga. Berolahraga merupakan
salah satu alternatif palng efektif dan aman untuk memperoleh kesegaran sebab
olahraga mempunyai berbagai manfaat, antara lain manfaat fisik, manfaat psikis,
dan manfaat sosial.
Menurut
Rusli Lutan (2002: 31-33), ada beberapa faktor yang mempengaruhi latihan
kesegaran jasmani yaitu intensitas (overload), kekhususan (specification),
frekuensi latihan, kekhasan seseorang
atau bersifat perorangan, motivasi berlatih.
Dari
pendapat di atas dijelaskan sebagai berikut:
a.
Intensitas
(Overload)
Untuk
meningkatkan kesegaran jasmani, seseorang harus melakukan tugas kerja yang
lebih berat dari kebiasaannya. Hal ini dapat dilakukan baik dengan menempuh
jumlah beban kerjanya atau mempersingkat waktu pelaksanaannya. Pemberian beban
yang selalu meningkat melebihi beban yang telah diatasi disebut prinsip beban
lebih (overload).
b.
Kekhususan
(Specification)
Peningkatan dalam berbagai aspek
kesegaran jasmani adalah bersifat spesifik, sesuai dengan jenis latihan yang
ditujukan terhadap kelompok otot yang terlibat. Latihan kekuatan misalnya,
tentu tidak akan banyak berpengaruh terhadap peningkatan daya tahan aerobik.
Jadi, setiap jenis latihan kearah pembinaan unsur kesegaran yang lebih khusus.
Koordinasi tidak meningkat,
bila dilatih dengan latihan melompat berulang kali dengan bertumpu pada kedua
kaki. Karena pembinaan kebugaran yang dimaksud bersifat menyeluruh, maka
programnya juga harus pada semua komponen kesegaran jasmani.
c.
Frekuensi
Latihan
Seberapa sering orang berlatih,
pasti akan mempengaruhi perkembangan kesegaran jasmaninya. Latihan yang
teratur, kadang berlatih, dan kadang-kadang diselingi dengan masa istirahat
yang lama juga sama buruknya dengan tidak berlatih. Kejadian seperti ini
disebut ketidak sinambungan latihan, suatu kelemahan dalam pembinaan. Otot-otot
yang dilatih secara teratur
dengan frekuensi yang cukup akan mengalami perkembangan. Serabut ototnya
semakin bertambah tebal, dan area itu ototnya menjadi semakin besar.
d.
Kekhasan
Seseorang/Bersifat Perorangan
Setiap orang meningkatan kesegaran
jasmani dengan kadar yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor
seperti, usia, bentuk tubuh, keadaan gizi, berat badan, status kesehatan, dan kuat lemahnya
motivasi.
e.
Motivasi
Berlatih
Anak-anak begitu senang bermain
ketika kecil, ketika usianya meningkat kesenangannya berkurang. Permasalahan
penting yang berkaitan dengan kesiapan untuk berlatih, selain sikap positif terhadap aktivitas
jasmani juga dorongan untuk berpartisipasi dalam kegiatan itu. Faktor yang
mempengaruhi motivasi anak dalam kegiatan jasmani khususnya pada orang dewasa
antara lain :
i.
Kegiatan
untuk memperoleh bentuk tubuh yang pantas dipandang atau ideal.
ii.
Keinginan
untuk memperoleh banyak relasi atau hubungan sosial.
iii.
Keinginan
untuk menunjukkan kemampuan.
Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
olahraga yang teratur, makan yang bergizi baik (seimbang) dan istirahat yang
cukup merupakan faktor yang mempengaruhi kebugaran jasmani.
4. Jenis tes
kondisi fisik
Sajoto (1992:11) mengemukakan bahwa
terdapat berbagai macam tes kondisi fisik yakni sebagai berikut :
a.
Tes Kekuatan otot
Tes ini untuk mengetahui kemampuan kekuatan
otot seseorang. Ada dua bentuk tes yang dimaksud, masing-masing adalah :
i.
Tes laboratorium dengan mempergunakan
alat-alat seperti dynamo meter dan tensiometer, yang mudah didapat dan mudah
dipergunakan adalah dynamometer. Hand and grip dynamometer ialah alat untuk
mengukur dorong dan tarik lengan, serta kekuatan genggam tangan. Sedang leg and
back dynamometer adalah alat untuk mengukur kekuatan otot-otot paha dan
pinggang.
ii.
Tes lapangan atau performance tes-tes
ini untuk mengetahui secara langsung mengenai kemampuan kekuatan serta daya
tahan otot seseorang. Salah satu tes tersebut adalah “Navy standard physical
fitness test”. Otot yang diukur adalah lengan, paha, dan perut.
b.
Tes daya tahan (endurance)
Tes ini untuk mengetahui kemampuan
cardiofasculair sistem didalam mengelola O2 dalam tubuh yang dipergunakan pada
waktu kerja berat. Kemampuan ini dikenal dengan simbol VO2 max, atau disebut
sebagai Maximal Aerobik Power dengan satuan yang dipakai adalah liter per menit
per berat badan, disingkat dengan cc/kg/BB/men.
i.
Tes laboratorium dengan mempergunakan alat-alat
seperti Ergocykle dan Treadmill.
ii.
Tes lapangan atau performance test
seperti Havard step Test, dan lari 12 menit (aerobic test). Sekarang dikenal
test lari 15 menit dari Alan D. Roberts.
c.
Tes daya ledak (Muscular Power)
Tes ini untuk mengukur kemampuan daya
ledak otot tertentu; sampai saat ini penyusun hanya mengetahui tes daya ledak
kaki yang menggunakan metode dan standar dari Alan D. Roberts dan Margaria-
Kalamentsatir Test.
d.
Tes Kecepatan (speed) Tes ini untuk
mengukur kecepatan seseorang dalam bergerak. Tes atau standar yang sering
digunakan adalah tes kecepatan bergerak dengan lari cepat 40 Yard lurus kedepan
dari Alan D. Roberts.
e.
Tes Daya Lentur.
i.
Tes laboratorium dengan mempergunakan
alat-alat seperti qoneometer fleksometer atau elektrogoniometer.
ii.
Tes dilapangan dengan penggaris, pada
umumnya untuk mengukur kelenturan sendi-sendi dalam tubuh seperti tes untuk
mengukur :
iii.
Daya lentur punggung kedepan dan
kebelakang.
iv.
Daya lentur (renggang) dari selangkang
\
BAB
III KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil
makalah ini dapat disimpulkan “Kebugaran
Jasmani Bagi Siswa SD Sekolah Dasar’’ bagian penting dari kurikulum sekolah
yang dirancang untuk membantu siswa mengembangkan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap untuk menjadi aktif dan sehat dalam hidupnya. Jika para siswa selalu
melakukan aktivitas jasmani meskipun tidak sedang dalam pembelajaran pendidikan
jasmani, maka dikatakan bahwa pendidikan jasmani telah berhasil menjadikan
siswa mempunyai kebiasaan hidup aktif.
B. Saran
Beberapa saran yang perlu disampaikan berdasarkan simpulan
di atas, antara lain:
1.
usaha
kesehatan sekolah (UKS) sebagai wadah pembinaan peningkatan kualitas jamani yang menggunakan konsep sekolah
sehat paripurna ( Comprehensive School Health/CSH) perlu ditingkatkan perannya dalam
mengembangkan aktivitas jasmani siswa;
2.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan perlu membuat kebijakan yang mengatur perlunya siswa sekolah dasar
melakukan aktivitas jasmani setidaknya 90 menit per hari;
3.
Penerapan aktivitas jasmani harian (Daily Physical
Activity/DPA) yang sudah dirintis di Indonesia melalui rintisan Model Sekolah
Sehat (MSS) perlu diaktifkan kembali, baik dalam pengembangan sekolahnya maupun
aktivitas jasmaninya;
4.
Program transportasi aktif perlu diterapkan bagi siswa
sekolah dasar di Indonesia;
5.
Model Bus Sekolah Berjalan (the Walking School Bus) perlu diuji cobakan dan dikembangkan
penerapannya di sekolah dasar di Indonesia dengan pertimbangan bahwa model
tersebut memiliki muatan nilai kebugaran dan sosial yang tinggi;
6.
Perlu adanya program penataan ruang dan lingkungan bagi
sekolah dasar yang belum memberikan kemudahan akses bagi siswa untuk melalukan
aktivitas jasmani
harian.
DAFTAR
PUSTAKA
Corbin, B
Charles dan Lindsey, Ruth. (1997). Physical Fitness. Dubuque: Times Mirror
Higher Education Group, Inc
Djoko
Pekik Irianto (2004). Panduan Latihan Kebugaran yang Efektif dan Aman.
Yogyakarta.
Lukman Offset
Len Kravitz. (1997). Panduan Lengkap. PT Raja Grafindo: Jakarta
Iskandar Z. Adisapoetra, dkk.
(1999). Panduan Teknik Tes dan
Latihan Kesegaran Jasmani untuk Anak
Usia Sekolah. Seminar dan Widiakarya Nasional Olahraga dan Kesegaran Jasmani,
Pusat Pengkajian dan Pengembangan IPTEK
Olahraga. Jakarta
Manadji, Agus. dan Abdullah, Arma
(1994). Dasardasar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Muhajir. (2007). Pendidikan Jasmani Teori dan Praktik 1.
Jakarta: Erlanggs
Nurhasan (2001). Tes dan Pengukuran
Dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta : Depdikbud
Rusli Lutan , J. Hartoto dan Tomo
liyus (2001). Pendidikan Kebugaran Jasmani Orientasi Pembinaan di Sepanjang
Hayat. Jakarta: Dirjen Olahraga, Depdiknas
Sadoso Susmosardjuno. (1992).
Petunjuk Praktis Kesehatan Olahraga. Jakarta: Pustaka KGU
Sajoto (1988). Peningkatan dan
Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Jakarta: Effar dan Dhaid Prize
Suharjana (2006). Pendidikan
Kebugaran Jasmani. Pedoman Kuliah. Yogyakarta. FIK UNY
Wahjoedi (2000). Landasan Evaluasi
Pendidikan Jasmani. Jakarta: PT Raja Grafindo
How to deposit and withdraw your casino games to your mobile
BalasHapusWhat to deposit and withdraw at Casino.com · 1. Go 논산 출장안마 to the top site · 2. Find the mobile casino games 서귀포 출장샵 available · 3. Visit the top 군산 출장안마 online 밀양 출장마사지 casinos · 4. 파주 출장마사지